Umum

VAKSIN MR MENGANDUNG BABI !!!

August 20, 2018

VAKSIN MR MENGANDUNG GELATIN BABI & HUMAN DIPLOID !!!

nehanesia.com – Vaksin MR mengandung Babi.  Dari telaah awal yang dilakukan oleh Tim LPPOM (Majelis Ulama Indonesia) MUI, terbukti bahwa Vaksin MR yang diproduksi oleh Serum Institute of India (SII) dan didistribusikan di Indonesia oleh Biofarma positif mengandung babi dan Human Deploit Cell, bahan dari organ manusia yang juga diharamkan oleh Komisi Fatwa MUI.

Vaksin MR
Source : habadaily.com

Demikian paparan yang dikemukakan dalam surat oleh Pimpinan LPPOM MUI kepada Pimpinan Harian MUI Pusat, dan dibacakan Wakil Sekretaris Jenderal MUI Pusat Bidang Fatwa Sholahudin Al-Aiyub, dalam Sidang Komisi Fatwa MUI, 15 Agustus 2018 lalu di Jakarta.

“Bahan yang digunakan dan proses produksi Vaksin MR telah diterima dari pihak SII india melalui korespondensi yang dilakukan. Berdasarkan data yang diberikan oleh pihak produsen di India, terdapat bahan yang bersal dari babi, yaitu gelatin yang berasal dari kulit babi. dan tripsin yang berasal dari pankreas babi. Ada pula bahan yang berpeluang besar bersentuhan dengan bahan babi dalam proses produksi, yaitu Lactalbumin hydrolisate sebagai media yang kaya protein dalam proses produksi vaksin tersebut. Selain itu ada pula bahan yang berasal dari organ tubuh manusia, yaitu Human Deploit Cell.”

Dengan penggunaan bahan-bahan tersebut, dan merujuk pada persyaratan dalam proses Sertifikasi Halal yang diterapkan oleh LPPOM MUI, maka produk tersebut tidak dapat disertifikasi halal. Artinya, tugas LPPOM MUI sudah selesai. Karena informasi awal itu sudah diyakini bahwa Vaksin MR itu tidak bisa dilanjut proses sertifikasi halalnya. Karena terbukti posifit mengandung unsur-unsur bahan yang haram dan najis menurut kaidah syariah.

Dengan kenyataan itu, maka kemudian Dewan Pimpinan Harian MUI Pusat menyerahkan masalah kelanjutan dari penggunaan Vaksin MR yang tidak bisa diproses sertifikasi halalnya oleh LPPOM MUI.

Baca Juga :  Rumah Adat Bugis Di Berbagai Daerah (Sejarah,Keunikan+Gambar)

Menanggapi hal itu, sejatinya MUI dengan Komisi Fatwa sangat mendukung program imunisasi yang dilakukan oleh pemerintah, dengan menetapkan Fatwa No. 4/2016 tentang Imunisasi.

Namun tentu vaksin yang digunakan Wajib Halal. Namun juga, dengan kenyataan tentang Vaksin MR yang terbukti mengandung babi, yang diakui pula oleh Pihak Kemenkes, maka pihak Kemenkes mengajukan permohonan fatwa yang lain tentang urgensi Vaksinasi MR yang sangat mendesak, selain tentang sertifikasi produk tersebut. (usm/JPN)

Sumber : jp-news.id

Tanggapan UAS tentang Vaksin MR

Liputan6.com, Jakarta Ustaz Abdul Somad menyentil persoalan halal-haram vaksin Measless Rubella(MR). Ia menyampaikan, sampai saat ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak mengeluarkan sertifikasi halal vaksin. Abdul Somad mengutip pernyataan tersebut dari Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) MUI, Ustaz Tengku Zulkarnain.

Ustaz Abdul Somad
Ustaz Abdul Somad bicara soal halal-haram vaksin Measless Rubella (MR).(Nurwahyunan/bintang.com)

Pembicaraan vaksin MR diungkapkan Abdul Somad dalam sebuah ceramah. Penggalan pembicaraan itu diunggah di akun Ngaji Mantap pada 13 Agustus 2018 berjudul Halal – Haram Suntik Vaksin Rubela – Ustadz Abdul Somad, Lc. MA. Dari pantauan Health Liputan6.com, unggahan sudah ditonton 9.838 kali sampai saat artikel ini ditayangkan.

Agar lebih dipahami pendengar, Abdul Somad menggambarkan soal halal-haram vaksin dengan pilihan mati dan makan babi.

“Kita berada di antara dua pilihan, mati atau makan babi. Pilih mana? Pilih babi, tak boleh pilih mati. Jika masuk hutan, pilih makan babi atau mati?. Kalau ada yang bilang, ‘Aku mati aja.’ Itu enggak boleh,,,, pastinya makan babi-lah,” Abdul Somad menjelaskan dalam video ceramahnya, ditulis Rabu (12/9/2018).

Kalau takut anak-anak cacat atau sakit akibat tidak diberi vaksin MR, maka boleh memakai hukum darurat itu (tak boleh mati). Suntik vaksin MR boleh dilakukan karena takut mati, Ustaz Somad menjelaskan.

Jangan lupa Like dan di Share ya...
error

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply