Opini

LITERASI NILAI OBJEKTIFITAS SEJARAH

August 14, 2018

nehanesia.com

LITERASI NILAI OBJEKTIFITAS SEJARAH

Oleh Saiful Ilyas

nehanesia.com

Literasi Nilai Objektifitas Sejarah – Referensi dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk menyampaikan ide, gagasan ; Apa saja asal positif, kapan saja, dan dimana serta sampai kapanpun dikenang Nilai – Sejarahnya hampir sama memaknainya. Andai Bukan Plato – Socrates Tidak Kuat Berpengang pada Referensi Nilai – Sejarahnya. Bait ini pembuka uraian berikutnya. 

 

Memilah Mutu Literasi

Ibarat seorang gadis – lelaki perjaka mempercantik diri, merawat wajah tampan, gagah diantara rasa kesetiaan menanti waktu kepelaminan (nasehat), lelah merenungi nasib masa depan ; Jalan Panjang diuntai kata – diatas bagaikan, balutan ombak di laut nan – biru (tak beririsan – titik temunya bersimpul dirantingnya) ; Anda mau besar? ; memiliki naluri kuat memaknainya. Tak semudah membalik telapak tangan. Namun, ada jalan Memilah Mutu Literasi Kepustakaan atas bersimpuh nilai, makna khakikat, yang sama harfiahnya dengan menjaga diri (mawas diri), yang menjunjung tinggi nilai etika, moral, dan agama (kesadaran); pandai membaca tanda zaman dan ketertinggalan alam pikiran dari riuhnya hiruk pikuknya abad – 21, yang ditandai kemajuan teknologi dan komunikasi, yang kini makin berdampak luas bagi kehidupan manusia dan lingkungan sosial masyarakat. Salah satu cara dilakukan untuk itu; pahami Mutu Literasi Kepustakaan ; dengan kebiasaan menulis, dan membaca lebih cerdik, dan belajarlah karakteristik budaya (kultur), sejarah dan wisata alam yang eksotik dengan cara meramu hasil – hasil penelitan dari bangun sistem budaya informasi komunikasi yang bermakna timbal balik, dan berimbang

Itulah, premis umum ilmu pengetahuan praktis untuk mencoba memahami arah, dan tujuan untuk menjadi sosok jurnalis pemula budaya alam wisata yang berbakat (ketalentaan penulis piawai mengeja ; kata dalam bahasa bakunya). Sebab, kebiasaan menulis, dan membaca seperti yang disyaratkan dalam uraian ini menjadi ; Dua serpihan mata uang tak dapat dipisahkan untuk tujuan kemuliaan, kebaikan, kebenaran, keadilan, hasrat dari kearifan rasa ingin tahu, (sifat dasar yang bijaksana) dari unsur ; Cipta, rasa, dan karsa manusia sebagai mahluk individu dan Zoon politicon (mahluk sosial). Dapatlah disesuaikan dengan prosa atas fitrah manusia sebagai mahluk berpikir, dan mahluk berihtiar (istiqomah).

Dalam dunia pustakawan tradisi menulis dan membaca bukanlah ; sebuah hal yang tabu (singgasananya budaya, dan peradaban) dari keunikannya (Ibarat peribahasa menyebutnya, Lain padang lain belalang – Lain lubuk lain ikannya), hampir pasti kemunculannya menjadi salah satu hal, yang dikarenakan awal perkembangannya, sehingga menjadi sebuah aksioma dari bentuk narasi, dan feature (tulisan khas), atau berita peristiwa menarik (Straigh News), ditujukan pada khalayak (publik opini), penyampaian pesan – pesan amanah ketulusan, keabadian, kejujuran dan lainnya. Media sosial bertebaran setiap ruang, waktu menyamai tuntutan samannya untuk menghiasi titik temunya pembaca atas opini publik mulai menggiring dan merintis jalan bijak atau penyelesaian peristiwa (sebentuk bangun solusi – jalan keluarnya). (Media Informasi – Vol XXX / 02 / 2016).

 

Publish Or Perish

Pada saat masa keemasan Islam Nabi Muhammad, SAW ; pernah memerintahkan kepada para sahabatnya, agar mengajari murid – muridnya pandai menulis dan membaca. Pada masa itu, dirintis sarana kepustakaan (medium literasi) sebagai medium keemasan Islam masa itu. Dikalangan ilmuan terkemuka di Amerika ada sebuah ungkapan menyebutkan, Publish Or Perish (terbitkan atau minggirkan atau senada pesan penulis – intrinsik / eksintrik) ; ungkapan tersebut sangat kental dikalangan pustakawan, akademisi, budayawan, sejarawan, dan kaum intelektual di Amerika saat itu.
Widyanta (2007) menyebutkan, bahwa penelusuran Eugegene Garfield, Credo yang berbunyi Publish Or Perish tersebut pertama muncul dalam tulisan logam Wilson, berjudul ; The Academic, yang ditujukan pada kalangan akademisi, ilmuan, dan intelektual termasyur. Jika tidak menulis kontrak kerjanya tidak akan diperpanjang atau dipotong masa kerjanya, dan seterusnya. Penulisan ini sangatlah beruntung karena di tanah air belum berlaku syarat formal tersebut dan belum menyeluruh dikalangan ilmuan, dan akademisi. Bahkan, belum diterapkan sama sekali yang diperkirakan banyak akademisi, ilmuan, dan pustakawan akan kehilangan mata pencaharian dan pekerjaan sehari – harinya ; akibat suramnya karya tulis yang diterbitkan di lingkungan kampus tempat menimba banyak ilmu pengetahuan. Muncul pertanyaan ; Lalu ada dorongan mengingatkan bahwa, Terbitkan gagasanmu atau kamu lenyap bisa menjadi mantera ampuh bagi pustakawan untuk menulis dan membaca. Pendek cerita menulis adalah, Tanggung jawab intelektual.

Baca Juga :  Jalan Simpan Transmisi Informasi Komunikasi Mekanis

 

Literasi Adalah Akar Sejarah

Intelektualitas seseorang akan hilang ketika seseorang tersebut meninggal dunia. Seluruh ilmu pengetahuan yang dimiliki akan terkubur, dan mati suri (sipeninggal). Agar ilmu pengetahuan yang dimiliki dapat dimanfaatkan secara terus menerus, maka ilmu pengetahuan tersebut harus diikat dengan tulisan (atau disimpulnya). Sayidinah Ali, ra ; mengingatkan bahwa, Ikatlah ilmu dengan tulisanmu. Dengan tulisan, ilmu akan abadi dan bisa dipelajari secara terus menerus. Demikian halnya Socrates, yaitu seorang filsuf besar di zamannya. Namun, dia hampir hilang dari peredaran sejarah, karena tidak menulis tentang gagasan, dan pemikiran serta perjalanan hidupnya (biografi). Beruntunglah dia, ada sosok Plato, murid Socrates – yang kemudian menuliskan catatan tentang dia, dan segala macam bentuk alam pemikirannya. Plato menuliskan pemikiran gurunya ke dalam bentuk tulisan, niscaya Socrates dilupakan oleh sejarah, dan juga dunia. Selain itu, seorang filsuf Prancis, Rene Descrates, mengatakan `Cogito ergo sum`, (Aku berpikir maka aku ada). Pameo / atau pengistilahan ini menyebutkan bahwa, `Scribo Ergo Sum, (Aku menulis maka aku ada). Hal ini menyadarkan kita bahwa, dengan Credo publish Or Perish, eksistensi atau keberadaan seorang pustakawan, budayawan, dan sejarahwan akan selalu ada selama ia mau berpikir, dan menuangkan pemikirannya ke dalam tulisan yang bermutu bagi pembaca yang budiman.

Komunikasi sebagai ilmu dengan sendirinya harus mempunyai metode ilmiah tersendiri dalam mendekati dan mengkaji objeknya secara empirik. Bila dicermati atas kecenderungan budaya literasi yang makin diminati para jurnalis saat ini. Akibat perkembangan informasi komunikasi literasi tiap waktu, ruang terisi diberbagai Media sosial terkemuka menunjukkan, ulasan tentang pentingnya budaya literasi yang mencakup budaya menulis objek wisata alam, sisi kehidupan nyata yang langkah terjadi di mana – mana, dan lainnya. Bila diterlusuri dengan pendekatan penelitian Kepustakaan amat penting, sehingga ; Setiap metode ilmiah harus konsisten taat azas dengan filsafat dan paradigma yang ada, sebab bagaimanpun juga metode ilmu itu hanyalah merupakan cara atau jalan yang ditempuh dalam pengkajian ilmiah.

Lalu bagaimana mempertautkan antara kedua hal tersebut di atas dalam persamaan persepsi (pendapat) kalangan intelektual, akdemisi, pustakawan, budayawan, dan sejarawan ke depan. Disatu sisi Anda cari mutu literasi yang diperlukan, dan anda terus menulis dan menuangkannya lewat konten Media sosial. Kebiasaan ini dinilai positif dan sangat mulia bagi penulis dan pembaca. Disisi lain, bahwa menulis literasi harus memenuhi kriteria yang penting untuk dinyatakan sebagai karya tulis yang bermutu dengan memenuhi syarat dan disuguhi kepiawaian imajnasi ilmiah, dan nilai intelektualitasnya sangat baik, dan menarik untuk bahan penelitian yang diperdalam dilingkungan masyarakat kampus.

Manfaatnya bagi proses pengembangan ilmu pengetahuan sangat maju. Demikian halnya sebuah hasil penelitian dalam menekuni mutu literasi penting bagi penulisnya, karena imajinasi yang tuangkan ke dalam singgah sananya harus syarat hasil penelitian Kepustakaan (perbandingan). Dengan menyimak sejumlah literatur didalam kepustakaan, menyebutkan bahwa untuk membuat suatu ide atau metode itu ilmiah, maka orang harus memahami apa yang telah dijalankan, bagaimana ia dijalankan, dan bagaimana kesimpulannya dicapai sepenuhnya.

Baca Juga :  Jalan Simpan Transmisi Informasi Komunikasi Mekanis

Dengan karakterisitik ini, hampir semua metode itu adalah, ilmiah, jika pengkaji (penulisnya) dapat mempertahankan observasi, dan hasilnya secara sistematis dan objektif. Masalah objektifitas dalam metode ilmiah, sudah lama menjadi perdebatan akademis yang sengit didalamnya untuk memenuhi titik simpulnya. Berbagai kalangan menuding bahwa ilmu sosial (non eksak) gagal bersifat objektif, karena ilmu sosial tidak mampu memberikan objektifitas sebagaimana yang terdapat dalam ilmu alam (eksak). Pandangan ini tentu tidak selamanya benar, sebab selain ilmu sosial memang tidak sama dengan ilmu alam ; juga terutama makna objektifitasnya itu yang perlu diperjelas.

Objektifitas Dalam Menulis

Sesungguhnya objektifitas itu, tidak berlawanan dengan subjektifitas. Malah keduanya merupakan 2 (dua) sisi mata uang, karena bagaimanapun juga semua keputusan setiap peneliti harus didasarkan atas nilai. Justru itu untuk mencapai objektifitas dari sebuah metode ilmiah, bukanlah menjauhkan subjektifitas, atau menjauhkan diri sendiri dari observasi yang dilakukan.A kan tetapi sebaliknya untuk mencapai objektifitas itu, diperlukan pengambilan keputusan berdasarkan nilai oleh peneliti. Dalam hal ini kehadiran subjek tidak mungkin dihindari, dan dari situlah nilai objek ditentukan. Harus disadari bahwa, pekerjaan penelitian, bukanlah pekerjaan tehnis, melainkan pekerjaan intelektual, dan akademis. Peneliti selain harus memahami metodologi penelitian, ia juga harus bergumul dengan banyak segi lain yang melibatkan tanggungjawab ilmiah dan integritas intelektualnya. Itulah sebabnya, setiap peneliti selalu memiliki seperangkat nilai yang menjadi rujukannya. Upaya berpegang kepada referensi nilainya itulah seorang peneliti mempertahankan objektifitasnya. Tujuan objektifitas

Suatu metode ilmiah, adalah untuk mengurangi kesalahan dan dari situlah keputusan diambil berdasarkan nilai. Secara esensial pilihan subjektif untuk mengurangi kesalahan sudah merupakan objektifitas dari metode itu sendiri. Hal semacam ini terjadi baik dalam analisa kuantitatif maupun kualitatif, sebab pilihan berdasarkan nilai dari seluruh proses pengkajian ilmiah tidak mungkin bisa dihindari oleh siapapun juga. Jadi objektiftas bukanlah berarti menghindari subjektifitas. Berikut dapat dipahami apa yang dimaksudkan, Robert K, Merton, (1957), Tentang penjelasan ilmiah itu
umumnya memberi jawaban atas pertanyaan apa, mengapa, bagaimana, dimana dan kapan ?, adalah, (1). Menimbulkan, (2). Mengkonfirmasikan, (3), Menyikirkan, dan (4). Menjelaskan teori. Pandangan tersebut diterima secara umum dikalangan masyarakat ilmiah dan insan akademis. Namun, demikian perumusan yang lebih sederhana keempat tujuan itu dapat ditelaah menjadi dua, yaitu mengkonfirmasi atau menjastifikasi atau memverifikasi suatu kongsep (disparitas) ataupun hipotesis, dan menimbulkan atau menggali dan melahirkan kongsep dari teori barunya.. (Ilmu Komunikasi, Prof Dt, Anwar Arifin, Tahun 1988).

Kesimpulan

Dengan singkat dikatakan bahwa, fungsi pertama dari penelitian ilmiah adalah, fungsi verifikasi dan fungsi kedua, adalah fungsi Heuristik. Semakin, kepustakaan banyak diisi peneliti muda, insan akademis dan penulis pemula berbakat masa depan bangsa ; dalam raut wajah mutu literasi budaya wisata nusantara Indonesia dalam bingkai ke Bhinnekaan yang nota bene cikal bakal melahirkan ; sosok penulis yang piawai, maka akan semakin tercurah inspirasi, gagasan atas banyagan cerminan yang fasiq menggunakan kata dan mengulas rentetan kalimat yang baku ; diatas tepian goresan pena memenuhi jalannya yang (bijak), yang suci dari tetesan dan percikan atas kecintaan pada nilai etika,, dan estetika nilai kemanusiaan, alam sekitarnya dan berharap nilai amalan yang berlipat ganda yang diridhoi.  Insya Allah.

Jangan lupa Like dan di Share ya...
error

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply