Umum

Rumah Adat Bugis Di Berbagai Daerah (Sejarah,Keunikan+Gambar)

July 18, 2018

Rumah adat bugisRumah Adat Bugis

Rumah Adat Bugis

Hai Sahabat nehanesia, Jika kita berkunjung ke provinsi Sulawesi Selatan pastinya kita akan bertemu dengan orang-orang dari suku bugis. Suku bugis terkenal dengan keramahannya, adat-istiadat, bentuk rumah adat bugis yang khas, gemar merantau, serta uang panaiknya yang mahal (bercanda  😆  ).

Filosofi

Setiap budaya memiliki Ciri Khas Rumah Adatnya Masing-masing. Begitu Pula Dengan Suku Bugis, rumah adat bugis itu terdiri dari tiga Bagian. Yang Dimana Kepercayaan Tersebut terdiri atas :
1. Boting Langi’ (Perkawinan Di langit yang Dilakukan Oleh We Tenriabeng)
2. Ale Kawaq (Di bumi. Keadaan-keadaan yang terjadi Dibumi)
3. Buri Liu (Peretiwi/Dunia Bawah Tanah/Laut) yang masih mempercayai bahwa Rumah ini bisa berdiri tanpa mengunakan satupun paku, orang dahulu kala mengantikan fungsi Paku Besi menjadi Paku Kayu.

Rumah adat Bugis terbagi menjadi dua berdasarkan status sosialnya, yaitu :
“Saoraja” yaitu Rumah besar atau bisa juga diartikan sebagai Istana. khusus keluarga keturunan raja (bangsawan), dan
“Bola” yang adalah rumah untuk rakyat biasa.

Pada dasarnya kedua rumah ini sama, yaitu berbentuk rumah panggung, terbuat dari kayu, berbentuk persegi empat panjang. yang membedakan dari keduanya adalah; Saoraja memiliki yang lebih luas, begitu juga dengan tiang utamanya yang besar berbentuk tabung/silinder yang biasanya terbuat dari kayu hitam (aju sappu‘). Atap saoraja berbentuk prisma dengan penutup bubungan yang biasa disebut dengan timpa’ laja, atap bertingkat-tingkat antara tiga sampai lima sesuai kedudukan pemiliknya. Bola sendiri bentuknya agak kecil dibanding saoraja, dengan tiang-tiangnya berbentuk segi empat.

Rumah-Rumah Adat di Daerah Bugis – Sulawesi Selatan

Terdapat Rumah beberapa situs sejarah Rumah Adat Bugis yang berada di Sulawesi Selatan, setiap rumah adat di tiap kabupatennya  memiliki bentuk yang khas yang membedakan dari rumah adat lainnya. Seperti rumah adat pinrang yang atap tangga depannya bertingkat-tingkat, rumah adat wajo yang tangganya berbentuk huruf L yang tidak terlalu menanjak, serta rumah adat Soppenng dengan Gerbangnya yang artistik.

Berikut dibawah situs rumah adat bugis yang ada di Sulawesi Selatan, Selamat membaca.

1. Bone – Bola Soba’

Bone memiliki satu rumah adat bugis peninggalan sejarah yaitu Bola Soba’. Jika anda berkunjung ke daerah Bone tidak pas rasanya jika kita tidak mengunjungi salah satu ikon kota bone ini. ya!, Bola Soba‘ yang berarti “Rumah Persahabatan”. Bola soba ini terletak di jalan Latenritatta Kelurahan Masumpu, Kec. Tanete Riajang, Kabupaten Bone.

Sejarah

Dahulu bola soba ini bernama “Saoraja Petta Ponggawae” yang berarti “rumah panglima perang”. Bola Soba ini adalah peninggalan Raja Bone yang ke-31 yaitu Lapawawoi Karaeng Sigeri yang didirikan sekitar tahun 1890-an. awalnya bola soba ini diperuntukkan sebagai rumah raja. selanjutnya rumah ini ditempati oleh La Pawwawoi, Baso Pagilingi Abdul Hamid yang kemudian  diangkat menjadi Petta Ponggawae (Panglima Perang) kerajaan bone dibawah pimpinan raja bone ke-30 We Fatima Banrigau. saat ditempati oleh Petta Ponggawae, bubungan rumah (timpa’ laja) yang awalnya berjumlah lima buah diubah menjadi empat buah, karena rumah yang boleh memiliki lima timpa’ laja’ hanyalah rumah raja.

Saat ini rumah adat bugis bola soba‘ juga berfungsi sebagai museum mini; Di bagian dalam ruangan terdapat potret Arung Pallakka, “bangkai” meriam tua, silsilah raja-raja Bone, serta beberapa benda-benda tertentu yang meliki makna tersendiri. selain itu saat ini Bola Soba‘ biasa dipakai oleh sanggar seni sebagai tempat latihan.

Galeri foto bola soba’
(berbagai sumber)

 

2. Wajo – Saoraja La Tenri Bali Atakkae

Kabupaten Wajo – Sulawesi Selatan memiliki aset wisata terkenal berupa Rumah Adat Bugis yang sangat ikonik, yaitu Saoraja La Tenri Bali. Rumah adat ini terletak di sebelah timur kota sengkang di kompleks rumah adat Atakkae Kelurahan Atakkae, Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo. Berjarak kurang lebih 3 kilometer dari pusat kota hanya membutuhkan waktu kurang lebih 5-10 menit untuk sampai kesana. Untuk menuju kesana tidaklah sulit, karena banyaknya moda transportasi umum yang dapat dipakai seperti angkot dan bentor.

Sejarah

Rumah adat Saoraja La Tenri Bali dibangun oleh Bupati Dahlan Maulana yang diresmikan pada tahun 1995. Saoraja La Tenri Bali dalam bahasa bugis yaitu “sao raja” yang berarti istana, dan La tenri Bali adalah nama raja / Arung Matoa yang pernah memimpin kerajaan wajo. jadi, Sao Raja La Tenri Bali berarti istana Raja La Tenri Bali.

Keunikan

Istana Raja La Tenri Bali sangatlah unik karena memiliki 101 tiang penyangga yang terbuat dari kayu ulin berbentuk bundar dengan berat setiap tiangnya mencapai 2 ton membuat rumah adat ini terlihat megah dan kokoh. kompleks halaman yang luas serta pohon lontar di sebelah kiri rumah, membuat rumah adat ini terasa asri dan lapang. itulah sebabnya kompleks rumah adat ini sering dijadikan sebagai lokasi pameran pembangunan se-kabupaten wajo. Bukan hanya itu, kegiatan perkemahan lokal dan nasional juga sering diadakan di daerah ini. Pameran-pameran kebudayaan setiap perayaan hari kemerdekaan telah menjadi acara tahunan.

Di dalam kompleks rumah adat Attakkae di sekitar Sao Raja La Tenri Bali berdiri juga rumah-rumah adat bugis khas untuk setiap kecamatan di Kabupaten Wajo. Bentuknya mirip dengan Sao Raja La Tenri Bali, Hanya saja lebih kecil dan menampilkan kekhasan setiap kecamatan. Rumah-rumah adat tersebut kerap kali menjadi tempat menginap para wisatawan yang berkunjung ke Perumahan Adat Atakkae.

Baca Juga :  Cara Cek NISN Online

Selain itu di dalam kompleks rumah adat attakae juga terdapat beberapa saung yang dapat ditempati oleh pengunjung untuk berteduh dan bersantai. terdapat pula kolam yang berisi tumbuhan teratai yg sangat indah. tak jarang pula ada pengunjung yang nekat memancing di kolam tersebut. suasana lokasi yang tenang dengan hamparan danau di belakang kompleks perumahan adat attakkae dapat membuat anda ingin berlama-lama berada di tempat ini.

Galeri foto Saoraja La Tenri Bali Atakkae (berbagai sumber)

3. Soppeng – Sao Mario

Sao artinya Rumah sedangkan Mario artinya Gembira. Namun pun demikian, bukan berarti Sao Mario ini hanya dipakai untuk bergembira saja dalam konteks yang lebih sempit, tetapi dalam konteks yang lebih luas, juga dipakai untuk Bersenang-senang.

Rumah Adat Sao Mario terletak di Kelurahan Manorang Salo Kecamatan Marioriawa, yang berjarak sekitar 30 Km dari Kota Watangsoppeng. Pemilik dari rumah adat Sao Mario ini adalah Prof. Dr. H. Andi Mustari Pide, SH dan Hj. A. Sitti Runiang. Pemilik rumah ini adalah orang asli dari Batu-batu, Kec. Marioriawa, Kab. Soppeng yang terbilang sukses di tanah rantau. Adapun Sang Arsitek Tunggal rumah adat Sao Mario, Dr. Ir. H. Bakhrani A. Rauf, MT yang dibangun pada akhir tahun 1989 yang saat ini menjadi salah satu dosen terbaik yang dimiliki oleh Universitas Negeri Makassar.

Keunikan

 Rumah adat ini juga dikenal sebagai Bola Seratu’E atau Rumah Seratus, karena jumlah tiang rumah yang terdapat di rumah adat sao mario berjumlah lebih dari 100 tiang. Berdiri di atas tanah seluas dua hektar, dengan panjang rumah 40 meter dan lebar 14 meter. Jadi tidak hanya itu, rumah adat kebanggaan masyarakat Soppeng ini terdiri atas 4 pilar didepan dengan diameter 50 cm dan semuanya menggunakan kayu hitam atau aju bolong. Kita semua juga perlu memahami bahwa rumah adat ini selain berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga, juga difungsikan sebagai tempat menyimpan benda-benda pusaka dari berbagai Propinsi se-Indonesia

Di Kompleks Rumah Adat Sao Mario yang berdiri kokoh di atas tanah dengan luas sekitar 12 Hektar. Selain terdapat rumah adat khas Suku bugis, juga terdapat berbagai jenis rumah adat khas suku lainnya yaitu : Rumah adat Bugis diberi nama “Sao Mario”, Rumah adat Mandar dengan nama “Boyang Mario”. Rumah adat Makassar “Balla Mario”. Rumah adat Toraja “Tongkonan Mario” dan Rumah Lontar dengan nama “Lontara Mario“.

Saat ini Rumah adat “Sao Mario” secara umum berfungsi sebagai museum dengan koleksi berbagai jenis barang antik yang bernilai tinggi dari berbagai daerah di Indonesia seperti: Kursi antik, Meja antik, tempat tidur, senjata tajam ,tulang manusia, dan berbagai macam batu permata. selain itu Sao Mario juga di fungsikan untuk lokasi acara-cara berbau adat, sebagai contoh Rumah adat “Sao Mario” pernah digunakan untuk Acara Ulang Tahun Kab. Soppeng. Saoraja  juga digunakan untuk acara pernikahan, sebagai tempat tinggal bagi pemilik dan beberapa orang lainnya. serta tempat para raja-raja terdahulu atau pemimpin terdahulu melakukan rapat.

Galeri foto Sao Mario – Soppeng (berbagai sumber)

 

 

4. Barru – Saoraja La Pinceng

Sejarah

Rumah adat Saoraja La Pinceng terletak di Lapasu Desa Balusu, Kec. Soppeng Riaja,  sekitar 16 Km ke arah utara dari ibukota Kabupaten Barru. Saoraja ini merupakan rumah Raja Balusu (1814) di buat pada masa pemerintahan Andi Muhammad Saleh Daeng Parani yang bergelar Petta Sulle Raja Balusu. Rumah ini diperkirakan telah berusia 200 tahun lebih.

Penggunaan nama Lapinceng diperkirakan karena proses pembangunan begitu lama. Pinceng (penyebutan huruf “e” dalam Lapinceng seperti menyebut kata “sehat”) dalam bahasa Bugis berarti piring kaca. Dari mulai pengadaan hingga pembangunan ada ratusan piring pecah. Pecahan-pecahan piring berhamburan juga menunjukkan biaya. Maka lahirlah penyebutan Lapinceng bukan rumah adat Balusu

Saoraja La Pinceng merupakan salah satu rumah atau istana peninggalan kerajaan Balusu, Kabupaten Barru. Istana ini menjadi salah satu saksi perjuangan Kerajaan Balusu melawan penjajahan Belanda.

Saoraja La Pinceng sendiri dibangun pada tahun 1836. Pengadaan dan perlengkapan sejak 1814. Adalah Andi Saleha yang membangun. Rumah ini, diperkirakan hadiah untuk anaknya, Andi Muhammad Saleh yang menggantikan sebagai raja. Saoraja La Pinceng Terletak di Dusun Lapasu atau Bulu Dua Kabupaten Barru.

Awal mula kerajaan Balusu diperintah keturunan raja-raja Gowa. Namun ketika rakyat Balusu sudah tidak sudi lagi diperintah keturunan raja-raja Gowa, maka ketua adat kerajaan Balusu memohon kepada kerajaan Soppeng (Datu Soppeng). Permohonan ini untuk memberikan atau memperkenankan keturunan Datu Soppeng untuk menjadi raja Balusu. Namun semua anak laki-laki Datu Soppeng sudah memangku jabatan, maka diutuslah anak perempuannya, Tenri Kaware untuk menjadi Ratu Balusu.

Setelah Tenri Kaware memerintah kerajaan Balusu beberapa tahun, kemudian digantikan oleh puteranya, Andi Muhammad Saleh. Dalam masa pemerintahan Andi Muhammad Saleh, kerajaan Balusu dalam keadaan aman dan sentosa. Selain itu, kehidupan rakyat penuh kesehjahteraan dan hasil pertanian melimpah ruah. Raja ini terkenal sangat saleh dan berani, sehingga kemudian digelar dengan nama Andi Muhammad Saleh Daeng Parani Arung Balusu.

Atas jasa-jasanya dalam mempertahankan kerajaan Soppeng dari kehancuran atas serangan yang dilancarkan gabungan kerajaan Wajo dan Sidenreng (Musu Belo atau Perang Belo), dia diberi gelar ‘Petta Sulle Datue’. Gelar ini juga memberikan kesempatan kepada Andi Muhammad Saleh untuk menggantikan Datu Soppeng jika berhalangan dan diserahi tugas dan tanggung jawab sebagai panglima perang di bagian barat kerajaan Soppeng. Dalam masa pemerintahannya, Andi Muhammad Saleh memindahkan pusat kerajaan dari Balusu ke Lapasu dan markas pertahanannya di Bulu Dua.

Baca Juga :  VAKSIN MR MENGANDUNG BABI !!!

Keunikan

Ukuran Ale Bola atau bangunan rumah induk berukuran kurang lebih 23,50 x 11 meter. Jumlah tiang Saoraja La Pinceng sebanyak 35 buah dengan panjang sekitar 6,50 meter, dan lebar sekitar 5,50 meter. Selain itu, juga terdapat sembilan buah tiang dengan ukuran 3 x 3 meter.

Bangunan rumah dapur memiliki panjang sekitar 11 meter dan lebar sekitar 8 meter, dengan jumlah tiang 20 buah (5 x 4), ditambah dua buah tiang antara Ale Bola dengan rumah dapur yang berfungsi sebagai penyambung dan tempat penyanggah tangga belakang. Tiang dan dinding kayu rumah ini menggunakan kayu bitti berlantai bambu. Potongan bambu untuk lantai diurut dengan begitu rupa, hingga semua ruas tulang benar-benar sejajar.  tapi lantai bambu sudah tak ada lagi berganti papan kayu. Ruas-ruas balok penyangga bambu hanya berjarak sekitar satu jengkal tetap dipertahankan

Selain itu, di dalam lokasi Saoraja La Pinceng terdapat pula beberapa bangunan antara lain, rumah jaga dengan ukuran sekitar 7,50 x 4 meter, bangunan panggung pementasan dengan ukuran sekitar 9,50 x 5 meter. Juga terdapat bangunan kamar mandi dan sumur dengan ukuran sekitar 8,50 x 6,20 meter. Luas lokasi secara keseluruhan sekitar 4.000 meter persegi.

Lapinceng berdiri di lahan seluas  43 are. Halaman ditumbuhi rumput hijau. Di bagian depan ada rumah jaga. Bagain samping, ada hamparan sawah dan di depan mengallir Sungai Balusu. Dari bagian depan, rumah Lapinceng berbeda dengan rumah Bugis lain. Teras tidak mengikuti badan rumah dan tertutup. Biasa, teras rumah Bugis selalu terbuka, tempat beristirahat penghuni dan tempat bercengkrama.

 Galeri foto Saoraja La Pinceng (Berbagai sumber)

5. Pinrang – Saoraja

Saoraja Pinrang terletak di Jl. Andi Makkulau, Sawitto, Watang Sawitto, Kab. Pinrang. di dalam kompleks Rumah adat ini terdapat dua buah bangunan; satu bangunan berbentuk seperti rumah bugis pada umumnya dan satu lagi bangunan berwarna putih dengan hiasan cat hijau pada kusen pintu, jendela  dan atapnya, jika dilihat sekilas bentuk bangunan ini seperti bangunan peninggalan jaman perjuangan yang memiliki makna khas tersendiri.

Saoraja pinrang merupakan peninggalan sejarah kerajaan sawitto, yaitu Arung Sawitto. Saat ini pun Saoraja Pinrang masih di huni oleh keturunan raja. walaupun dulu sempat di renovasi tapi bentuk tetap dipertahankan untuk menjaga keaslian bentuk bangunan. Selanjutnya kompleks Rumah adat ini masih sering digunakan untuk acara-acara adat dan kegiatan-kegiatan masyarakat lainnya.

Galeri Foto Saoraja – Pinrang (Berbagai Sumber)

6. Luwu – Istana Kedatuan Luwu

Istana Luwu atau Istana KeDatuan Luwu berada persis di Kota Palopo yaitu di Jalan Jalan Andi Djemma No. 1, Kelurahan Batu Pasi, Kecamatan Wara Utara, Kabupaten Luwu, Palopo, Sulawesi Selatan. Istana ini dibangun oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1920 untuk menggantikan “Saoraja”, istana raja sebelumnya yang diratakan oleh Pemerintah Belanda sendiri diduga untuk menghapus peninggalan Kedatuan Luwu.

Keunikan

Kompleks istana itu berdiri di lahan yang lapang. Ada Bangunan yang arsitekturnya bergaya Eropa dan  sebuah rumah panggung yang besar. Di bagian depannya, Di dekat bangunan istana saat ini dibangun miniatur Saoraja, kemudian di depan istana tersebut terdapat sebuah Monumen Perjuangan Rakyat Luwu berupa patung tangan yang memegang badik yang terhunus ke langit yang dikelilingi kolam teratai. Di sekitarannya ada taman, rumputnya tercukur dengan rapi.

Luwu dalam sejarah Bugis merupakan kerajaan pertama. Hal ini bersumber dari Mitologi I La Galigo. Bermula pada abad ke 12 di Ussu di Luwu Timur, kemudian pusat kerajaan berpindah ke Pattimang-Malangke, dan pada abad 16 ke Palopo – sekarang Kotamadya Palopo. Pada tahap inilah pamor dan ketenaran Luwu berangsur meredup di kancah perdagangan nusantara.

Di dekat bangunan istana saat ini dibangun miniatur Saoraja dan di depan istana tersebut terdapat sebuah Monumen Perjuangan Rakyat Luwu berupa patung tangan yang memegang badik yang terhunus ke langit. Di dekat istana luwu terdapat pula Masjid Jami yang usianya sangat tua dan keseluruhan dindingnya terbuat oleh batu yang disusun, tidak ada salahnya jika anda pengunjung yang sedang berada di Kota Palopo untuk singgah berwisata ke tempat ini. Saat ini istana ini berfungsi sebagai Museum untuk mengenang perjuangan dan melestarikan kebudayaan Kerajaan Luwu.

Di Istana Luwu terdapat dua bangungan, yaitu Langkanae dan Salassae. Langkanae adalah sebutan kata lain dari istana. Langkanae ini dijadikan cagar budaya buatan Belanda untuk menggantikan Langkane yang dulu. Belanda membangunnya untuk kedatuan ketika Langkanae terbakar. sedangkan Salassae adalah tempat pertemuan atau perjamuan para tamu-tamu istana. Itulah istana Luwu, sekarang di jalan Andi Tenripadang. Istana itu tak luas, hanya memiliki tiga ruangan, kamar untuk datu dan kamar untuk para dayang istana. Sementara bagian lobi digunakan sebagai museum.

Di dalam Istana Kedatuan Luwu terdapat berbagai benda pusaka. Di antaranya, dipajang dalam lemari kaca, sertifikat Pahlawan Nasional RI bagi (almarhum) Andi Jemma ditandatangani Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2004. Peninggalan lain yang ada di Istana Luwu tidak berupa Mahkota, tetapi berbentuk Besi Pakka dan Bunga Waru, yang hanya dipakai oleh datu, yang merupakan simbol Dewata Matenruliwawo. Di Istana Luwu juga terdapat Songko’ Pameri.

Galeri Istana Kedatuan Luwu – Palopo (Berbagai sumber)

Penutup

Demikianlah diatas situs-situs sejarah rumah adat bugis yang terdapat di Sulawesi Selatan. jika sedang berkunjung ke daerah tersebut maka sempatkanlah untuk berwisata ke rumah adat tersebut guna mengingatkan kita akan jati diri bangsa ini. demikian artikel ini semoga dapat memberi manfaat bagi kita semua.

Jika ada yang merasa masih perlu ditambahkan silahkan komentar dibawah. terima kasih

 

Daftar Pustaka

www.gurupendidikan.co.id/suku-bugis-sejarah-adat-istiadat-kebudayaan-kesenian-rumah-adat-dan-bahasa-beserta-pakaian-adatnya-lengkap/
solata-sejarahbudaya.blogspot.com/2015/11/rumah-adat-suku-bugis.html
www.kompasiana.com/adi.pallawalino/550e4298813311b52dbc619e/mengurai-jejak-sejarah-bola-soba-di-bone
www.mongabay.co.id/2014/12/19/merawat-masa-lalu-menjaga-rumah-adat-lapinceng/
madyrezan.blogspot.com/2015/01/sejarah-situs-istana-luwu.html
ekorusdianto.blogspot.com/2011/11/di-balik-tembok-istana-luwu.html
kangdaenghukum.blogspot.com/2014/01/objek-wisata-atakkae-sao-raja-la-tenri_4920.html
pedomanrakyat.id/2018/05/15/rumah-adat-sao-mario-di-soppeng-di-mata-ketua-lpm-unm/
video www.youtube.com/watch?v=IXgtZSZttUU

 

Baca Juga : Sejarah Kerajaan Mamuju – Sulawesi Barat

Jangan lupa Like dan di Share ya...
error

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply