Umum

Sejarah Kerajaan Mamuju

July 14, 2018

Sejarah Kerajaan Mamuju

oleh Drs. H. I. ABD. RACHMAN TH, MPA

BAB  I

SEKAPUR SIRIH

      Setelah mengalami titian sejarah berabad-abad lamanya mulai pada awal abad II di Mamuju sudah ada peradaban, ini ditandai dengan ditemukannya 3 pemukiman neolitik masing-masing Minanga, Siniakko, Kanesi dan Kalumpang. Ke 3 pemukiman ini terletak di sekitar aliran sungai Karama.

      Tetapi sangat sulit ditentukan siapakah peletak dasar-dasar peradaban di wilayah Mamuju sejak abad II sampai abad V Kerajaan Mamuju (Sikandeng) telah menjadi salah satu daerah perdagangan global yang bertaraf internasional. Ini salah satu indikasi bahwa sejak saat itu Kerajaan Mamuju telah memiliki struktur sosial masyarakat yang teratur, mungkin pula sistim Pemerintahan yang berpengaruh disepanjang Pantai Utara Selat Makassar.

      Cikal Bakal Pemerintah Kerajaan Mamuju adalah mulai dari beberapa Tomakaka kemudian mengadakan persekutuan bergabung didalam satu ikatan yakni Kerajaan Mamuju.

      Secara Geografis, daerah yang termasuk Kerajaan Mamuju ialah mulai dari Taludu sampai Suromana, masyarakat yang berada disekitar wilayah ini kemudian sepakat menamakan diri To Mamunyu atau suku Mamunyu.

      Berdirinya kerajaan Mamuju sesuai penelitian yang seksama yakni pada 14 Juli 1540 yang selanjutnya mulai dari Sistim Monarki menjadi daerah Regentchap kemudian menjadi daerah adat Gementschap sampai decade terakhir menjadi distrik, makadalam sebuah peralihan antara fase pemerintah klasik / tradisional dengan Pemerintah Konstitusional lalu lahir Undang-Undang No. 29 tahun 1959 (14 tahun) setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Undang-undang tersebut menjadi dasar hukum berdirinya Kabupaten Daerah Tingkat II se Sulawesi termasuk didalamnya Kabupaten Mamuju dengan wilayah yang meliputi 6 (enam) buah Kecamatan (Pemekaran Distrik menjadi Kecamatan). sejarah kerajaan mamuju

BAB II

LATAR BELAKANG SEJARAH

Kerajaan Mamuju adalah sebuah negeri / daerah yang wilayahnya cukup luas. Batas –batas kerajaan Mamuju sebagai berikut :

Sebelah Utara      : Kabupaten Donggala Sul-Teng (Suromanan)

Sebelah Timur     : Basokang dan Kabupaten Luwu

Sebelah Selatan   : Takandeang Kerajaan Tapalang

Sebelah Barat      : Pulau Salissingan / Selat Makassar.

 

      Kerajaan Mamuju dihuni oleh suku / etnis Mandar Mamuju dan tergolong masuk wilayah pitu Ba’bana Binanga (Tujuh Buah Muara Sungai). Mamuju adalah berasal dari mamunyu karena pengaruh morfologis dan aktualisasi maka Mamunyu berubah menjadi mamuju, Mamunyu artinya lembut sopan santun dan halus.  sejarah kerajaan mamuju

Ketujuh kerajaan pitu babana binanga yaitu :

  1. Kerajaan Balanipa
  2. Kerajaan Banggae
  3. Kerajaan Pamboang
  4. Kerajaan Sendana
  5. Kerajaan Tapalang
  6. Kerajaan Mamuju
  7. Kerajaan Binuang

      Jika kita berbicara tentang adat istiadat maka tidak lepas dari budaya, Budaya Mamuju adalah budaya tertua di Sulawesi Selatan, hal ini dibuktikan dengan penemuan benda-benda purbakala seperti patung sikendeng yang dibawa oleh orang-orang dari asia tenggara di Mamuju, ditemukan di Mamuju (sikendeng) pada tahun 1973.

      Bukti sejarah kebudayaan tua lainnya ialah ada satu lembar bendera tua yang bertuliskan kalimat syahadat yang umurnya juga sudah ratusan tahun dibawa datang oleh penyebar agama islam yang berasal dari luar Sulawesi yaitu pulau Sumatra. Penyebar agama islam yang pertama di Mamuju ialah seorang wali yang bernama PUATTA SALAMA (1500).

      Begitu pula ada sebilah keris pusaka bernama badong berasal dari hasil perkawinan anak raja Mamuju dengan anak raja badung bali melahirkan seorang manusia yang bernama LASALAGA kembar dengan sebuah keris Lasalaga dikuburkan di kampung Timbu Mamuju (Topeloda Batu).

      Keris pusaka ini oleh masyarakat juga diberi nama manurung karena selain kelahirannya tidak seperti keris biasa juga punya banyak kesaktian dan sampai sekarang masih dipercaya oleh sebagahagian masyarakat termasuk masyarakat bali yang ada di Mamuju (eks transmigrasi) begitu pula halnya masyakarat bali yang ada di pulau Bali (Bali dan Denpasar).  sejarah kerajaan mamuju

Humas Pemprov Sulbar-2017

      Pada waktu pemandian / pencucian keris manurung pada tahun 2002 acara prosesi massossor ini selain dihadiri oleh seluruh perangkat Pemda Mamuju Lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, tokoh Adat Mamuju juga dihadiri oleh Raja Badung, Bupati dan wali kota Denpasar Provinsi Bali. Disaat proses pencucian  keris pusaka air yang digunakan ialah air yang dicampur dengan berbagai macam bunga-bungaan sehingga airnya menjadi harum dan air ini diperebutkan oleh seluruh masyarakat yang mempunyai kepercayaan bahwa air bekas cucian Keris Manurung dapat memberikan berkah yakni memperbanyak rezeki dan cepat mendapat jodoh bagi mereka yang belum mempunyai pasangan.

      Keris Manurung ini oleh masyarakat Mamuju disebut juga Maradika Tammakanakana artinya Raja tidak bisa bicara. Keris pusaka ini menjadi bukti sejarah tentang adanya hubungan emosional antara masyarakat Mamuju dengan masyarakat badung/Bali. Keris pusaka ini tersimpan di Mamuju dirumah kediaman H. Andi Maksum Dai Raja di Kerajaan Mamuju. Umur keris pusaka ini sudah ratusan tahun karena barang ini seumur dengan lahirnya Lasalaga.

      Peninggalan sejarah lainnya yaitu pelabuhan Kurri-Kurri di Simboro yang sejak ratusan tahun lalu (1540) sudah banyak dikunjungi oleh pedagang asing Portugis, Belanda dan lain-lain.

      Sejak saat itu Kerajaan Mamuju (pelabuhan Kurri-kurri) sudah dikenal disebahagian wilayah nusantara, seperti Kerajaan Kutai di Kalimantan, Gowa, Bone dan Luwu serta Kaili di Sulawesi Tengah. Namun Mamuju termasuk etnis Mandar, tetapi mempunyai bahasa khusus ialah bahasa Mamuju tetapi orang Mamuju pada umumnya dapat dan mengerti akan bahasa mandar. Dalam wilayah daerah Kerajaan Mamuju ada beberapa bahasa lokal; yakni bahasa Botteng, digunakan oleh masyarakat yang berada disepanjang  pegunungan batas Mamuju-Tapalang, bahasa Sumare berada disepanjang tanjung rangas, Bahasa Padang dipergunakan oleh masyarakat yang berada dipegunungan kelurahan Binanga dan Kelurahan Mamunyu, bahasa sinyonyoi dipergunakan oleh masyarakat yang berada di Kelurahan Sinyonyoi dan Desa Kalukku, Bahasa Sondoang dipergunakan oleh masyarakat di Desa Sondoang-Kalukku, Bahasa Topoyo & Tobadak dipergunakan oleh masyarakat yang mendiami kecamatan Tobadak, Bahasa Sarudu dan Baras dipergunakan oleh masyarakat yang berada di Kecamatan Sarudu dan Baras, Bahasa Kalumpang dipergunakan oleh masyarakat di pegunungan kecamatan Kalumpang dan Bonehau. Bahasa kaili dipergunakan oleh masyarakat diperbatasan daerah Mamuju dengan Donggala Sulawesi Tengah.  sejarah kerajaan mamuju

 

BAB III

TINJAUAN SEJARAH INTERNASIONAL

      Sejarah perkembangan daerah Mamuju berdasarkan penelitian yang dikemukakan bahawasanya di Mamuju sudah terdapat pemukiman neolitik masing-masing di Minanga, Simakko, Kamesidan Kalumpang dimana hal ini ditandai dengan alat-alat kesehariannya berupa batu, pakaian dari kulit kayu serta gerabah yang cukup halus dengan hiasan yang halus. Selain peralatan yang dimaksud diatas juga dengan ditemukannya patung budha yang dikenal dengan nama patung sikendeng tepatnya pada tahun 1937, tipe patung itu adalah amarawati yang disinyalir berasal dari atau dibawah dari India selatan di pelabuhan internasional sikendeng.

      PELRAS didalam bukunya The Bugis, Sikendeng itu pada abad ke 2 sampai ke 5 masehi merupakan pelabuhan internasional dimana telah dilakukan ekspor berupa bijih besi, damar, rotan, hasil laut teripang dan berbagai jenis ikan, dan hasil bumi lainnya. Selain pendapat PELRAS tersebut juga lebih mengejutkan laporan Jhon Dalton (Juli 1831) yang menyebutkan bahwa di Mamuju pada saat itu hubungan dengan dunia sudah begitu lancar, Perdagangan dengan Kaili dimana raja mengumpulkan emas dari penduduk untuk keperluan membeli peluru-peluru buatan Amerika, hal ini dibuktikan pada tahun 1700 sampai 1800. Kerajaan Benawa (Gorontalo) dan Teluk Tomini ditaklukkan oleh orang-orang Mamuju (Mandar).

Baca Juga :  PERTANYAAN-PERTANYAAN SEPUTAR SSCN CPNS 2019

      Selanjutnya pada tahun 1540 berdasarkan catatan sejarah internasional bahwa Mamuju memiliki pelabuhan internasional (kurri-kurri) dimana didalam peta pelayaran Portugis pada tahun tersebut dicatat bahwa pelabuhan kurri-kurri menjadi persinggahan orang-orang portugis membawa komoditas pada rute kerajaan siang di Pangkep sebelum Gowa dan Manado Tua (Sulawesi Utara)

      Keberadaan Mamuju disejajarkan Mandar berdasarkan Lontara 4, 1 To Makaka dan 4 diantaranya adalah To Makaka dari Mamuju yakni To Makaka dari Lebani, To Makaka dari Kalukku, To Makaka dari Kalumpang dan To Makaka dari Lumu. Dari Keempat To Makaka menyatukan diri dibawah naungan Mamuju dengan kerajaan kecil dibawahnya masing-masing : Kerajaan simboro, Tambayako, Kurri-Kurri Pangale Lara Karossa, baras, dan To Makaka di Kalumpang to Bara di Budong-budong. sejarah kerajaan mamuju

      Dari kerajaan-kerajaan tersebut diatas diikat oleh talli (ikrar) bahwasanya mereka menyatu dalam satu rumpun yakni rumpun Mamuju.

      Dari berbagai peristiwa yang diungkapkan diatas dan berbagai ungkapan-ungkapan tradisional seperti antara lain: “Todiari Teppo Dulu Parullui Dikilalai Sule Wattu iate’e Laiyalai Mendiari Peppondanganna Katuoatta’ ilalanera Laittingayoianna”.

      Artinya : “Kejadian dan cerita masa lalu perlu dikenang dan dihayati di hari ini, sebagai dasar untuk menyongsong kehidupan hari esok yang lebih baik”.

Sejarah pada hakekatnya mencakup peristiwa-peristiwa masa lampau yang berperan sebagai konsisten dan imendier konstituen karena manusia sebagai mahluk sosial senantiasa terpanggil untuk menempatkan diri sebagai salah satu unsur dari setiap peristiwa.

 

BAB IV

ASAL-MUASAL KERAJAAN MAMUJU

      Pada zaman dahulu kala sebelum agama islam, seorang lelaki bernama Pongkapadang dengan isterinya bernama Torijene tinggal di gunung Kapuasan, Tabulahan – Mamasa. Negeri itu dinamai Tabulahan, berhubung isterinya Pongkapadang yang bernama Torijene tersebut, kalau berbicara keluar liurnya menyerupai emas (Bahasa toraja nya bulahan). Mereka mempunyai 7 orang anak, tidak diketahui berapa laki-laki dan berapa yang perempuan, sebab tak ada yang dapat menyatakan.  sejarah kerajaan mamuju

      Setelah anak-anak dari Pongkapadang telah besar, maka pongkapadang mengawinkan anaknya saudara-bersaudara (tidak diketahui cara bagaimana beliau mengawinkannya). Dalam perkawinan saudara-bersaudara dari anak-anak pongkapadang itu mereka mendapat 11 orang anak, 9 diantara cucu-cucu pongkapdang itu tidak diketahui perginya dengan pasti, Cuma diketahui dari cucu pongkapadang itu yaitu lelaki bernama Tambulibassi dan Tamakkidaeng datang ke Mamuju dan merekalah yang mula-mula mendiami kerajaan mamuju. Tambulisasi tersebut pergi ke Tapalang dan menjadi nenek dari penduduk kerajaan Tapalang, dan saudaranya yang bernama Tamakkidaeng tinggal tetap di Mamuju dan dialah yang menjadi nenek dari orang Mamuju, tetapi tidak dapat dinyatakan dengan pasti bahwa lelaki Tamakkidaeng pernah menjadi Mara’dia (Radja). Begitu asal-muasal dalam kerajaan mamuju. (Diceritakan oleh Maradika Mamuju H. DJALALUDDIN AMMANA INDA).

      Dahulu di Baras bagian distrik Karossa kedapatan lelaki bernama “Sanjilana” dengan isterinya bernama “Tondalabua” dan seorang anak laki-laki yang tidak diketahui namanya diturunkan dari langit (Kayangan) didalam sebuah balon persegi empat yang bernama balasuji, tetapi tak dapat diketahui yang menurunkannya. Penggantung (tali) yang digunakan menurunkan balasuji tersebut. Bernama kamagi dan mereka duduk dalam sebuah piring besar dan bertopi mangkok. Pada tiap-tiap sudut balasuji itu ada guci (bahasa Mamuju Ganno-Ganno).  sejarah kerajaan mamuju

Dari turunan beliau datang di Mamuju 3 orang bersaudara :

  1. Daeng Majannang
  2. Pue’ Tanileo
  3. Daeng Manurung

      Daeng Majannang tersebut menjadi Raja Mamuju. Pue Tanielo menjadi Raja Bone-Bone (Kepala Distrik merangkap anggota adat) dan Daeng Manurung menjadi Baligau (Kepala Distrik merangkap anggota adat).

      Ketika Daeng Majannang sudah terlalu tua maka diangkat menjadi raja kerajaan Mamuju yaitu Pue’ Tanielo, dan saudaranya yang bernama Daeng Manurung tetap menjadi Baligau.  sejarah kerajaan mamuju

      Kemudian pada waktu Pue’ Tonileo dan Pammarica (Raja) mengadakan pertemuan atau molimbo dengan para tetua adat maka disinilah untuk pertama kali membentuk adat Gala’gar Pitu yaitu :

  1. Baligau
  2. Pue’ Pepa
  3. Pue’ Ballung
  4. Pue To Bone-Bone
  5. Pue Tokasiwa
  6. Pa’bicara
  7. Kadi

      Kemudian dari itu berkumpullah lagi anggota Gala’gar pitu bersama dengan Pue’ Tonileo dan Pammarica untuk mengadakan pemangku adat lapisan yang kedua yang dinamai:

  1. Djoa
  2. Salim
  3. Tanabalang
  4. Suro Udung
  5. Panggulu Pomangan
  6. Kamangkasaran

      Jadi ke 15 bawahan adat ini masing-masing diberi satu tempat / Rumpun sagu untuk penambah penghidupannya juga dan dipergunakan pula untuk kepentingan umum seperti:

  1. Peperangan
  2. Kesusahan
  3. Perkawainan turunan Maradia turunan Raja
  4. Keramainan dilantik Raja dan keramaian lain-lain turunan Raja umpama disunat dan lain-lain.

      Raja yang memegang pemasukan dan pelepasan pegawai-pegawai Sjarat misalnya:

  1. Qadhi
  2. Imam
  3. Chatib
  4. Bilal
  5. Doja

      Dengan bahasa suku Mamuju: Maradika Mampadiang Kakalian (Maradika pamampatama kali ampe diang kali) Imam, Chatib, Bilal dan Doja. Begitupun segala perkara-perkara yang hendak diputus dan lain-lain, semua dalam kekuasaan oleh Raja kecuali perkara yang kecil-kecil saja. Kalau ada perkara kecil diputus oleh pegawai-pegawai Sjarat tersebut. Tidak disetujui oleh maradja sebab terlalu ringan atau berat, maka perkara itu diulang kembali dan diputus sendiri oleh maradja dan tidak boleh dicampuri oleh hadat-hadat.  sejarah kerajaan mamuju

 

BAB V

STRUKTUR PEMERINTAHAN KERAJAAN MAMUJU

      Kerajaan Mamuju sebagaimana halnya di kerajaan lain berlaku sistem pemerintahan monarki, tetapi bukan monarki absolut karena raja diganti atas usul lembaga adat namun yang menjadi Kepala Negara adalah Raja. Raja Mamuju Pammarica dan Pue Taleo mulai membentuk lembaga adat sejak itu di Mamuju sudah ada lembaga adat lembaga adat dengan istilah “Gala’gar Pitu” yang membantu Raja sehari-hari dalam menjalankan Pemerintahan yaitu:

  • Baligau

Tugas Baligau di Mamuju adalah mewakili raja, selanjutnya memegang urusan pertahanan dan keamanan.

  • Pue Ballung

Raja Mamuju – Andi Maksum Dai Pic: 2enam.com

Bertugas dibidang kepemudaan, kesenian dan bidang pengadilan

  • Pue Papa

Bertugas di bidang kesejahteraan (Kesra) dan urusan umum

  • Pue To Bone-Bone

Bertugas dibidang kesyahbandaran, pengelolaan hasil laut dan olehraga.

  • Pue To Kasiwa

Bertugas dibidang tenaga kerja dan penggerak massa

  • Pa’bicara

Bertugas di bidang penerangan yakni menyampaikan hasil-hasil keputusan Sitammu Uju dan pemerintah dari Raja.

  • Kadhi

Bertugas di bidang keagamaan dan pengadilan agama.

Pemerintah Swapraja

Pada garis besarnya susunan pemerintah swapraja di Sulawesi Selatan sebagai berikut:

  1. Raja sebagai Kepala Pemerintahan (diantaranya dan yang mempunyai wakil),
  2. Dewan Hadat
  3. Kepala Distrik
  4. Kepala Kampung

BAB VI

PENGERTIAN ADAT DAN SIRI’

Adat

      Pada dasarnya adat itu ialah aturan-aturan yang tidak tertulis, akan tetapi demi untuk kesejahteraan bersama, adat itu dijunjung tinggi dan dipatuhi sebagaimana mestinya. “Pendekatan Budaya Mandar oleh Ibrahim, Hal. 12”.

Baca Juga :  VAKSIN MR MENGANDUNG BABI !!!

      Adat istiadat sesuai Perda Kab. Mamuju No. 17 Tahun 2001 adat adalah suatu kebiasaan dalam interaksi sosial masyarakat adat yang berkembang dalam masyarakat adat dan yang telah diakui serta tidak bertentangan dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku. Untuk mengetahui dan memahami apa itu adat maka dibawah ini pembawa makalah menjelaskan ada beberapa ungkapan adat yang diangkat oleh Lontarak Mandar antara lain sebagai berikut:

      Apakah yang dimaksud dengan adat dan pemangku adat? Yang dimaksud dengan adat dan pemangku adat pada hakikatnya adalah sama, hanya adat semacam lembaga dan pemangku adat adalah person pejabat adat, jadi adatlah yang dihargai dan dihormati atau disapa / disebut sebagai “puang”. Bahkan masyarakat lebih mencintai adat atau anggota adat daripada raja.

Ada tujuh pola kekuatan adat (hukum) antara lain ialah:

  1. Permata yang bercahaya yang tak pudar oleh benturan alam
  2. Pematang yang lurus tanpa pelurus diatas tanah
  3. Pagar daerah atau negeri yang tak boleh dilompati
  4. Penjara adalah alat yang menjerakan orang yang bijak
  5. Tempat berpegang erat bagi rakyat
  6. Tempat berlindung penduduk negeri
  7. Tempat bertumpu / berlindung oleh orang banyak

Demikianlah petuah-petuah para leluhur sebagai pegangan atau pedoman bagi masyarakat adat.

Adapun sumber adat terdiri dari lima azas:

  1. Kodrat manusia
  2. Kebiasaan terhadap yang baik
  3. Kesepakatan bersama
  4. Petuah-petuah leluhur
  5. Pendapat adat (keputusan musyawarah adat).

Apa yang menyebabkan sehingga adat bisa hidup berkelanjutan? Menurut ketetapan para leluhur pendahulu bahwa adat itu :

  1. Tidak tergiur sogokan
  2. Tidak berat sebelah
  3. Tidak beribu dan tidak berbapak
  4. Tidak mempunyai saudara
  5. Tidak mempunyai sahabat (kawan) dan tidak mempunyai lawan
  6. Tidak ada yang dilindungi dan tidak yang ditekan / ditindis
  7. Tidak mengenal orang yang berpendidikan tinggi dan tidak pula mengenal yang hina dan papa
  8. Tidak ada yang disukai dan tidak ada yang dibenci
  9. Tidak loba dan tidak boros

Hal-hal yang melemahkan adat ialah :

  1. Membaringkan orang tanpa tikar
  2. Menidurkan orang tanpa diberi bantal
  3. Menyuruh berjalan diatas jalan yang tidak lurus
  4. Menyembelih orang bukan pada lehernya (memperlakukan orang bukan pada tempatnya).

Ungkapan-ungkapan adat tersebut diatas merupakan suatu sistim nilai hidup yang besar dan mendalam maknanya, inilah yang menjadi kendali dari semua tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari dan ini juga merupakan penjaga ketat bagi kelanjutan berlangsungnya adat budaya mereka.  sejarah kerajaan mamuju

Siri’

      Siri yang ada di Sulawesi Selatan (siri’ suku Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja) adalah sama. Keempat suku itu memegang asas hukum yang sama, yaitu apabila seseorang pria memperkosa seorang gadis, maka keluarga si gadis merasa berhak menghukum, bahkan membunuh si pria tersebut. (Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa).

      Siri’ adalah suatu sistim nilai sosial kultural dan keperibadian yang merupakan pranata pertahanan harga diri dan martabat manusia sebagai individu dan anggota masyarakat (Prof. Dr. H. Zainal Abidin).

      Kesimpulan yang bisa diambil tentang siri’ adalah suatu perasaan untuk mempertahankan harga diri yang banyak kali memaksa manusia untuk bertindak atau berbuat secara irrasional dan adapula kalanya secara rasional.

Hal-hal yang menyebabkan timbulnya siri’ :

  • Siri yang menimbulkan akibat atau latar belakang kriminil :
  1. Istri digangu orang
  2. Tunangan / kekasih direbut orang
  3. Anak / sanak keluarga perempuan / gadis / janda dibawa lari orang seorang laki-laki.
  4. Daerah/suku dihina orang
  5. Ditempeleng dan dimaki-maki orang dimuka umum
  6. Agama yang dianut dihina orang
  7. Apabila hak-hak pribadi (kelompok) dirampas orang
  • Siri’ yang berakibat merugikan diri pribadi atau kelompok
  1. Apabila kedatangan tamu
  2. Bersaing dalam soal-soal materi
  • Siri’ yang berakibat menata kehidupan manusia sebaik-baiknya dalam hidup berkelompok.
  1. Menempatkan diri dalam masyarakat di daerah sendiri maupun dirantau orang.
  2. Menempatkan diri sebagai hamba Allah yang taqwa dan beriman memegang teguh akidah kemanusiaan menuju akhlakul karimah.  sejarah kerajaan mamuju

 

BAB VII

KATA-KATA YANG BERMAKNA (MUTIARA) DALAM MASYARAKAT MAMUJU

“Bisse sara nisitimangngi lanto siri nisikammungngi”

 “Bisse sara nisitimangngi” artinya : Kalau timbul masalah persoalan didalam kampung kepada para tokoh adat dan tokoh masyarakat bersama menyelesaikannya agar tidak menyebar ke kampung lain.

“Lanto siri nisikammungngi” artinya : Kalau ada kasus atau persoalan yang timbul dalam lingkungan keluarga, umpama ada kasus siri’ yang terjadi maka pihak orang tua yang harus cepat menyelesaikannya agar kasus siri’ tersebut tidak tersebar di masyarakat.

“Mampa leba angatan, mampatimballa lino”

Artinya : jika ada gejolak yang terjadi maka pemimpin atau tokoh masyarakat harus segera menetralisir sehingga keadaan tidak membesar.

Inilah sifat yang harus dipunyai oleh pemimpin-pemimpin masa kini.

Ampunna siola-ola bomo tau toiya, dalle’ nirumpa’ dalle’ disibarei, sara’ nirumpa’ sara nisioali”.

Artinya : Kalau kita bersama / berteman dengan seseorang, maka rejeki yang didapat maka rejeki itu harus dibagi. Masalah / persoalan yang didapat maka masalah tersebut harus dihadapi bersama.

“Nilalle padalle ampe nileteangngipa, ud’de diang dalle’ su’be mentuala”

Artinya : Rejeki itu harus dicari, karena rejeki itu tidak akan datang menyongsong atau menyambut kita.

“Sonai membanna-bannang na da’a bottu”

Artinya : Biar sedikit-sedikit asal jangan langsung putus. (harus irit)

“Anu mala penduang da’a mupasang pissang”

Artinya : yang bisa digunakan untuk dua kali, jangan digunakan untuk 1 kali (harus hemat)

“takkala nisombalang dotai ruppu’ nada’a titoali dilangaang”

Artinya : sekali layar berkembang, pantang kembali pulang ke pelabuhan

“Millete dikatongaang”

Artinya : selalu berjalan diatas kebenaran

“Manggoge paso’”

Artinya : Orang yang suka mendongkel teman yang posisinya sudah bagus.

“Nabatta salopi’ ”

Artinya : Terkena tuduhan, tetapi bukan dia yang melakukan karena pada saat kejadian kebetulan dia yang berada ditempat itu.

“Tarrare Diallo, Tammatindo dibongi”

Artinya : “Pemimpin Seharusnya tidak bisa bersenang-senang di waktu siang dan tidur nyenyak di waktu malam, karena pemimpin itu harus selalu memikirkan rakyatnya.”

 

”Demikian makalah yang kami sampaikan, semoga ada manfaatnya

 Sekian dan terima kasih, Kurang lebihnya mohon dimaafkan”

Oleh : Drs. H. I. ABD. RACHMAN TH, MPA    sejarah kerajaan mamuju

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 Drs. H.I. Abd Rachman TH, MPA, Selayang Pandang Syarah Adat Mamuju. Juli 2004

Andi Muin M.G, Menggali Nilai-Nilai budaya Bugis Makassar dan Siri’ na Pacce, Tahun 1990

Ibrahim, Pendekatan Wilayah Mandar, Tahun 1999

Prof, Dr. H. Abdul Hamid, Prof Dr. H. Zainal Abidin Farid, Prof. Dr. H. Mattulada, Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, Prof Dr. C. Salambi. Siri Pacce Harga Diri Manusia Bugis, Makassar, Mandar, Toraja. Tahun 2003

Yang Mulia H. Djalaluddin Ammana Inda (Raja Mamuju), Pokok Adat Istiadat Dalam Kerajaan Mamuju Asalnya Kerajaan Mamuju. Tahun 1999

Saiful Sindrang. Mengenal Mandar Sekilas Pintas. Tahun 1996

Andi Fahri Makkulawu. Kerajaan-Kerajaan Di Maros Dalam Lintas Sejarah. Tahun 1963  sejarah kerajaan mamuju

Perda Pemkab Mamuju No. 17 Tahun 2001 Tentang Pemberdayaan, Pelestarian Dan Pengembangan Adat Sitiada Dan Pembentukan Lembaga Adat.

Jangan lupa Like dan di Share ya...
error

You Might Also Like

2 Comments

  • Reply Muh. Arman Husain August 20, 2018 at 11:51 am

    Mengenai sejarah yang anda sampaikan itu hanya
    Menitik beratkan pada argumentasi tanpa mengedepankan sumber rujukan yang memadai, harus lebih spesifik dan mendasar, ini terkesan copas dan tidak melalui proses analisis dan metode penulisan sejarah yang benar, tapi untuk semangat sy apresiasi ..good job..

    • Reply nehan August 20, 2018 at 2:12 pm

      terima kasih atas masukan dan apresiasinya…
      tulisan ini saya terima dari Drs. H. I. ABD. RACHMAN TH, MPA, beliau adalah salah satu pakar sejarah yg ada dimamuju.
      atas segala kekurangan dalam tulisan sy mohon maaf.

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: